Ternyata tidak ada kaitannya dengan lagu The Beatles, P.S. I Love You. Judul itu diambil karena didalam film tersebut sarat akan surat-surat cinta dari seorang suami yang meninggal lebih duluan. Lalu bermunculanlan surat-surat cinta yang telah ditulis semasa hidupnya, tetapi baru dikirimkan setelah dia meninggal karena sakit.
Sang istri terus bermemori dan mengikuti apa yang diminta didalam surat tersebut, hingga ke kampung halaman sang suami di Irlandia.
Film tersebut mengajarkan kita untuk mengambil kesempatan baik didepan mata tanpa harus menunggu yang lebih baik lagi. Karena kita belum tentu beruntung dapat menemukan hal yang lebih baik lagi dari apa yang sedang terjadi saat ini.
23 Februari 2008
In The Valley Of Elah Bisa Ganti Judul Koq
Film yang berjudul "In The Name of Elah", bercerita tentang seorang Bapak yang kehilangan anaknya, yang seharusnya pulang kerumah sejak kembali dari perang di Irak. Si Bapak curiga anaknya hilang karena dibunuh. Ternyata benar, tapi awalnya sulit sekali mencari fakta tersebut, karena ditutup-tutupi oleh kawan dan komandan di angkatan mereka.
'In The Name of Elah', hanya kalimat yang sesekali disebut sewaktu si Bapak bertemu dengan putra seorang polisi yang ketakutan sewaktu tidur, sehingga pintu kamar selalu harus terbuka. Ia menceritakan tentang kekuatan goliath melawan ketakutan di lembah Elah. Ya itu aja sih kaitan judul dengan cerita film tersebut.
Menurut saya, judul tersebut bisa diganti menjadi "Missing" atau "Dead of Soldier" atau apalah, yang penting gak harus In The Name Of Elah.
'In The Name of Elah', hanya kalimat yang sesekali disebut sewaktu si Bapak bertemu dengan putra seorang polisi yang ketakutan sewaktu tidur, sehingga pintu kamar selalu harus terbuka. Ia menceritakan tentang kekuatan goliath melawan ketakutan di lembah Elah. Ya itu aja sih kaitan judul dengan cerita film tersebut.
Menurut saya, judul tersebut bisa diganti menjadi "Missing" atau "Dead of Soldier" atau apalah, yang penting gak harus In The Name Of Elah.
Label:
In The Name of Elah
Yuk Kita Nonton Siaran Langsung Oscar di TV
Siapa saja peraih Oscar tahun ini? Mari kita saksikan di Star TV malam ini (25 Feb. 2008). Untuk melihat siapa saja nominator Oscar 2008, silahkan masuk ke situs mereka. Sudah saya sediakan di samping halaman blog saya ini..
Hari Film Nasional
Tanggal 30 Maret adalah Hari Film Nasional. Kalau tidak salah, kineforum Dewan Kesenian Jakarta akan mengadakan Bulan Film Nasional (BFN) dengan tema "Sejarah Adalah Sekarang". Tahun lalu, BFN sukses dengan hampir 2000 orang menonton film nasional. Tahun 2008, mari kita ikut memeriahkan sambil menonton filn Indonesia klasik dan kontemporer yang akan diputar bioskop-bioskop Indonesia. Jangan lupa juga untuk menghadiri pameran "Sejarah Bioskop Indonesia" selama bulan Maret nanti.
Kita do'akan semoga sukses!
Kita do'akan semoga sukses!
Label:
Hari Film Nasional
16 Februari 2008
Film-film Eksklusif di Bioskop Ibu Kota
Ada beberapa judul film yang ditulis di posternya sebagai film yang diputar secara eksklusif, terutama di Blitz Megaplex. Film tersebut antara lain : Before The Devil Knows You're Dead, You Kill Me, The Fall, August Rush, Love in The Time of Cholera dan lain sebagainya.
Sementara itu, di Studio 21 juga ada beberapa film yang tidak diputar di Blitz, seperti Rmbo IV, P. S. I Love You, La Vie En Rose dan beberapa film Indonesia.
Terlepas dari deal bisnis diantara produser, pengedar dan biokop, saya pikir cara-cara itu dapat merugikan konsumen atau penonton film. Karena Blitz belum tersebar secara merata hingga kepinggiran Jakarta, maka orang harus merogoh kocek yang sangat mahal hanya untuk sebuah film yang eksklusif.
Harga tiket yang 40 hingga 50 ribu, ditambah biaya parkir (kalau bawa kendaraan sendiri) membuat banyak orang tidak dapat menonton film tersebut. Bagaimana jika film-film tersebut diatur pemutarannya atau di barter oleh sesama bioskop tersebut, agar lebih banyak orang dapat belajar dari film-film yang cukup bagus tersebut. Bagainana menurut Anda?
Sementara itu, di Studio 21 juga ada beberapa film yang tidak diputar di Blitz, seperti Rmbo IV, P. S. I Love You, La Vie En Rose dan beberapa film Indonesia.
Terlepas dari deal bisnis diantara produser, pengedar dan biokop, saya pikir cara-cara itu dapat merugikan konsumen atau penonton film. Karena Blitz belum tersebar secara merata hingga kepinggiran Jakarta, maka orang harus merogoh kocek yang sangat mahal hanya untuk sebuah film yang eksklusif.
Harga tiket yang 40 hingga 50 ribu, ditambah biaya parkir (kalau bawa kendaraan sendiri) membuat banyak orang tidak dapat menonton film tersebut. Bagaimana jika film-film tersebut diatur pemutarannya atau di barter oleh sesama bioskop tersebut, agar lebih banyak orang dapat belajar dari film-film yang cukup bagus tersebut. Bagainana menurut Anda?
Kuliah Umum Marguerite Duras oleh Stephane Bouquet
Mengapa film-film ini? Marguerite Duras tidak pernah 'pelit' dalam memberi komentar-komentar pedas terhadap dunia perfilman. Dalam sebuah wawancara, ia mengatakan "Sinema sudah menjadi busuk". Namun selama 10 tahun, ia tetap membuat film-film yang luar biasa. Film yang telah mendobrak seni sinematografi dan mengantarnya ke jenjang yang lebih tinggi. Yang harus dimengerti disini adalah : mengapa terdapat rasa muak atau bosan terhadap sinema? Apa yang dapat dicapai oleh sastra dan yang tidak dapat dicapai oleh sinema? Dan untuk apa membuat film, sementara rasa jenuh itu tetap ada ? Pada akhirnya, apa yang telah ia peroleh dalam seni citra dan suara ?
Marguerite Duras menulis buku, menulis skenario film dan teater, juga menyutradarai film. Dia menyadari keterbatasan dan keleluasaan tiap media. Sepertinya, ia mengalami tarik menarik dari masing-masing media. Simak beberapa kutipan dari bukunya The North China Lover (diterjemahkanoleh Leigh Hafrey) : This is a book. This is a film. This is night. (p. 6) In the film, we won't give the waltz a name. Here in the book, we will call it: "The Desperation Waltz." (p. 10)
Dalam buku ini Marguerite Duras bercerita ulang tentang kisah cinta antar ras, di suatu tanah jajahan. Ya, cerita ini sudah pernah dia tuturkan dalam The Lover, yang kemudian sudah di adaptasi pula dengan judul yang sama ke layar lebar oleh sutradara Jean Jacques Annaud. Duras tampaknya tak puas.
Lewat sebuah diskusi, akan dibahas tentang sastra-nya, sinema-nya dan tegangan di antara keduanya. Bagaimana hasilnya? Kita nantikan saja..
Marguerite Duras menulis buku, menulis skenario film dan teater, juga menyutradarai film. Dia menyadari keterbatasan dan keleluasaan tiap media. Sepertinya, ia mengalami tarik menarik dari masing-masing media. Simak beberapa kutipan dari bukunya The North China Lover (diterjemahkanoleh Leigh Hafrey) : This is a book. This is a film. This is night. (p. 6) In the film, we won't give the waltz a name. Here in the book, we will call it: "The Desperation Waltz." (p. 10)
Dalam buku ini Marguerite Duras bercerita ulang tentang kisah cinta antar ras, di suatu tanah jajahan. Ya, cerita ini sudah pernah dia tuturkan dalam The Lover, yang kemudian sudah di adaptasi pula dengan judul yang sama ke layar lebar oleh sutradara Jean Jacques Annaud. Duras tampaknya tak puas.
Lewat sebuah diskusi, akan dibahas tentang sastra-nya, sinema-nya dan tegangan di antara keduanya. Bagaimana hasilnya? Kita nantikan saja..
Label:
Marguerite Duras
15 Februari 2008
Sejarah Singkat FFI
Berikut ini catatan sejarah singkat FFI yang saya kutip dari berbagai sumber.
Festival Film Indonesia (FFI) merupakan ajang perhargaan tertinggi bagi dunia perfilman di Indonesia. FFI pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955 dan berlanjut di tahun 1960 dan 1967 (dengan nama Pekan Apresiasi Film Nasional), sebelum akhirnya mulai diselenggarakan secara teratur pada tahun 1973.
Pada tahun itu pula mulai diberikan penghargaan yang diberi nama Piala Citra. Sebelumnya ada beberapa nama yang diusulkan untuk Piala ini yaitu:
-Citra (Bayangan Wajah)
-Mayarupa (Bayangan yang Terwujudkan)
-Kumara (Cahaya Badan)
-Wijayandaru (Cahaya Kemenangan)
-Wijacipta (Kreasi Besar)
-Prabangkara (Nama Ahli Sungging Majapahit)
-Mpu Kanwa (Nama Sastrawan Majapahit)
Mulai penyelenggaraan tahun 1979, sistem Unggulan (Nominasi) mulai dipergunakan.
FFI sempat terhenti pada tahun 1992, dan baru diselenggarakan kembali tahun 2004. Pada perkembangannya, diberikan juga penghargaan Piala Vidia untuk film televisi.
Berikut adalah kategori pada penyelenggaraan FFI yaitu:
-Film Terbaik
-Sutradara Terbaik
-Aktor Terbaik
-Aktris Terbaik
-Aktor Pendukung Terbaik
-Aktris Pendukung Terbaik
-Skenario Terbaik
-Sinematografi Terbaik
-Penyuntingan Terbaik
-Penata Artistik Terbaik
-Penata Suara Terbaik
-Penata Musik Terbaik
Kategori Lainnya :
-Cerita Asli Terbaik (sampai tahun 1992)
-Skenario Asli Terbaik (tahun 2006)
-Skenario Adaptasi Terbaik (tahun 2006)
Selain itu diberikan juga penghargaan untuk
-Film Dokumenter Terbaik,
-Film Pendek terbaik, dan
-Kritik Film Terbaik.
Festival Film Indonesia (FFI) merupakan ajang perhargaan tertinggi bagi dunia perfilman di Indonesia. FFI pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955 dan berlanjut di tahun 1960 dan 1967 (dengan nama Pekan Apresiasi Film Nasional), sebelum akhirnya mulai diselenggarakan secara teratur pada tahun 1973.
Pada tahun itu pula mulai diberikan penghargaan yang diberi nama Piala Citra. Sebelumnya ada beberapa nama yang diusulkan untuk Piala ini yaitu:
-Citra (Bayangan Wajah)
-Mayarupa (Bayangan yang Terwujudkan)
-Kumara (Cahaya Badan)
-Wijayandaru (Cahaya Kemenangan)
-Wijacipta (Kreasi Besar)
-Prabangkara (Nama Ahli Sungging Majapahit)
-Mpu Kanwa (Nama Sastrawan Majapahit)
Mulai penyelenggaraan tahun 1979, sistem Unggulan (Nominasi) mulai dipergunakan.
FFI sempat terhenti pada tahun 1992, dan baru diselenggarakan kembali tahun 2004. Pada perkembangannya, diberikan juga penghargaan Piala Vidia untuk film televisi.
Berikut adalah kategori pada penyelenggaraan FFI yaitu:
-Film Terbaik
-Sutradara Terbaik
-Aktor Terbaik
-Aktris Terbaik
-Aktor Pendukung Terbaik
-Aktris Pendukung Terbaik
-Skenario Terbaik
-Sinematografi Terbaik
-Penyuntingan Terbaik
-Penata Artistik Terbaik
-Penata Suara Terbaik
-Penata Musik Terbaik
Kategori Lainnya :
-Cerita Asli Terbaik (sampai tahun 1992)
-Skenario Asli Terbaik (tahun 2006)
-Skenario Adaptasi Terbaik (tahun 2006)
Selain itu diberikan juga penghargaan untuk
-Film Dokumenter Terbaik,
-Film Pendek terbaik, dan
-Kritik Film Terbaik.
Label:
Sejarah Singkat FFI
Langganan:
Postingan (Atom)